![]() |
| Ilusterasi |
TANGERANG.BERITATANGERANG.CO.ID - Di tengah padatnya aktivitas masyarakat urban, muncul fenomena yang kian dianggap wajar: orang yang tidur larut tapi tetap bangun pagi, seolah tubuh mereka punya mode darurat yang membuat semuanya tetap berjalan normal. Dari pekerja, mahasiswa, hingga mereka yang berkecimpung di dunia kreatif, banyak yang bangga bisa tetap beraktivitas meski hanya tidur beberapa jam.
Namun pertanyaannya, apakah ini bentuk kedisiplinan? Atau justru cerminan budaya kerja yang semakin menekan?
Di satu sisi, kemampuan bangun pagi setelah begadang sering dipuji. Mereka dipandang sebagai pribadi tangguh, berdedikasi, dan penuh komitmen terhadap pekerjaan. Bahkan dalam ruang kerja, ada semacam anggapan bahwa “kurang tidur adalah tanda produktivitas”.
Padahal, realitasnya tidak sesederhana itu. Begadang yang dijadikan kebiasaan justru menunjukkan tekanan lingkungan, tuntutan pekerjaan yang berlebihan, atau manajemen waktu yang tidak sehat. Tubuh mungkin mampu dipaksa terjaga hari ini, namun efek jangka panjangnya tak bisa diabaikan: konsentrasi menurun, risiko penyakit meningkat, hingga emosi yang sulit dikendalikan.
Fenomena ini semakin terasa di kota padat seperti di Kota-kota Besar hingga di Tangerang ini, di mana ritme mobilitas cepat dan persaingan kerja tinggi. Banyak yang merasa tidak punya pilihan lain selain “memeras tenaga”, lalu tetap bangun pagi seolah semuanya baik-baik saja.
Di tengah apresiasi terhadap mereka yang “tetap kuat meski kurang tidur”, penting mengingat bahwa produktif bukan berarti menyiksa diri. Kualitas hidup bukan diukur dari berapa lama kita terjaga, melainkan bagaimana kita mengatur waktu, menghargai kesehatan, dan mampu menjalani hari tanpa harus memaksakan tubuh.
Fenomena tidur larut tapi tetap bangun pagi bukan sekadar cerita tentang kedisiplinan; ia adalah cermin budaya kerja kita. Dan mungkin, sudah saatnya kita bertanya: apakah semua ini benar-benar perlu, atau kita hanya terbiasa hidup terlalu cepat?
Red

