
Ketua DPAC PKB Kecamatan Kresek, H. Mahmud Mutawali
KAB.TANGERANG,BERITATANGERANG.CO.ID– Dinamika politik internal menyelimuti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Tangerang pasca digelarnya Musyawarah Cabang (Muscab) pada Jumat siang (10/4/2026) di Kantor DPC PKB Kabupaten Tangerang.
Meski perhelatan telah usai, sejumlah riak perubahan dan nada kekecewaan muncul dari tingkat Dewan Pengurus Anak Cabang (DPAC).
Persoalan utama yang mencuat adalah minimnya ruang komunikasi yang dibangun oleh pengurus DPC terhadap struktur di bawahnya selama ini. Komunikasi politik dinilai cenderung tertutup dan baru tampak terbuka secara masif hanya menjelang momentum Pilkada atau Pemilu Legislatif (Pileg).
Ketua DPAC PKB Kecamatan Kresek, H. Mahmud Mutawali, menyatakan bahwa Muscab seharusnya menjadi momentum emas untuk menyelaraskan visi antara calon pemimpin baru dengan para ketua PAC.
"Kami berharap Muscab lebih memberikan ruang diskusi yang lebar antara para ketua PAC dengan calon pemimpin baru. Hal ini penting agar ada titik temu dan harapan yang sama dalam memajukan partai PKB ke depannya. Jangan sampai ada sekat komunikasi yang membuat arus bawah merasa terabaikan," ujar H. Mahmud, Sabtu (11/4/2026).
H. Mahmud juga menekankan pentingnya pengurus baru untuk melakukan transformasi dalam pola kepemimpinan, khususnya dalam aspek pemberdayaan struktur di tingkat kecamatan dan desa.
"Harapan kami kepada pengurus baru adalah agar lebih memberdayakan para ketua PAC melalui program-program kerja yang nyata. Kita ingin kehadiran PAC benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh struktur hingga ke tingkat akar rumput, bukan hanya sekadar nama di atas kertas," tambahnya.
Sebagai pimpinan di wilayah Kecamatan Kresek, H. Mahmud Mutawali juga memberikan catatan kritis mengenai keberlanjutan partai di wilayahnya. Menurutnya, loyalitas kader di tingkat bawah sangat bergantung pada perhatian dan sinkronisasi program dari tingkat kabupaten.
"Kecamatan Kresek memiliki basis massa yang loyal, namun loyalitas ini perlu dirawat dengan komunikasi dua arah yang sehat," paparnya.
" Dan jika ruang komunikasi hanya dibuka saat butuh suara di Pileg atau Pilkada, maka sulit bagi kita untuk membangun militansi jangka panjang. Pengurus DPC yang baru harus berani turun ke bawah dan mendengar, bukan hanya memerintah," tegasnya menutup pembicaraan.
Red