![]() |
| Cuplikan Video amatir jebol tanggul Kali Angke di Perumahan Pinang Griya Kota Tangerang |
TANGERANG,BERITATANGERANG.CO.ID – Jebolnya tanggul di Perumahan Pinang Griya Kecamatan Pinang dan Kecamatan Periuk dalam waktu yang berdekatan bukan lagi sekadar rangkaian musibah akibat hujan deras. Dua kejadian ini adalah satu peringatan serius bahwa sistem pengendalian banjir di Kota Tangerang masih rapuh dan belum dibangun secara utuh serta berkelanjutan.
Di Pinang, tanggul Kali Angke jebol dan air langsung menerobos permukiman warga. Sementara di Periuk, tepatnya di kawasan Garden City, tanggul Kali Ledug tak mampu menahan debit air hingga merendam ratusan rumah dan memaksa ribuan warga mengungsi. Dua lokasi berbeda, dua sungai berbeda, tetapi satu kesamaan mencolok: tanggul gagal menjalankan fungsinya.
Setiap kali banjir terjadi, alasan yang selalu dikedepankan adalah curah hujan tinggi dan kondisi alam ekstrem. Namun ketika dua tanggul jebol hampir bersamaan, publik wajar mempertanyakan apakah masalahnya benar-benar hanya pada hujan, atau justru pada kualitas dan konsep infrastruktur pengendalian banjir itu sendiri.
Fakta di lapangan menunjukkan, tidak semua bangunan yang selama ini disebut “tanggul” merupakan tanggul teknis sungai. Sebagian besar justru diduga berupa Tembok lama perumahan,Bangunan pengaman lingkungan atau struktur darurat yang tidak pernah ditingkatkan menjadi tanggul permanen.
![]() |
| Banjir di Periuk Kota Tangerang |
Bangunan seperti ini tidak dirancang menahan tekanan debit sungai dalam kondisi ekstrem. Tidak memiliki fondasi sungai yang memadai, tidak dilengkapi sistem anti-rembesan, serta tidak dibangun berdasarkan perhitungan hidrologi jangka panjang. Ketika hujan besar datang, kegagalan struktur menjadi hal yang nyaris tak terelakkan.
Pemkot Tangerang memang bergerak cepat setiap kali bencana terjadi. Di Periuk, ribuan karung kisdam disiapkan, pompa air dikerahkan, dan perbaikan sementara dilakukan. Hal serupa juga terjadi di Pinang. Namun justru di sinilah persoalan mendasarnya, Kota Tangerang masih terjebak pada pola penanganan reaktif, bukan pencegahan permanen.
Setiap tahun siklusnya berulang: hujan datang, tanggul jebol, warga terendam, pemerintah bergerak cepat, lalu semuanya kembali normal tanpa ada penyelesaian struktural yang tuntas.
Yang lebih mengkhawatirkan, hingga kini publik belum mendapat penjelasan tegas:
Kapan tanggul di Pinang dibangun?
Siapa yang membangunnya?
Apakah itu proyek resmi Pemkot Tangerang?
Apakah ada dokumen perencanaan dan pengawasan teknisnya?
Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk tanggul di Periuk. Status bangunan yang jebol masih kabur: apakah aset pemerintah, bangunan lama pengembang, atau sekadar hasil perbaikan darurat yang dibiarkan permanen.
Padahal, ketika Pemkot Menganggarkan penanganan,Menurunkan OPD teknis dan menjadikan titik tersebut sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir kota,maka tanggung jawab publik secara fungsional tetap melekat. Tidak cukup hanya menjawab dengan alasan cuaca.
Peristiwa Pinang dan Periuk menelanjangi satu persoalan besar. Kota Tangerang belum memiliki sistem tanggul sungai permanen yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Yang ada baru rangkaian solusi jangka pendek, tambalan darurat, dan struktur sementara yang dipaksa memikul risiko besar.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan rinci dari Pemkot Tangerang terkait status hukum dan teknis tanggul yang jebol, apakah merupakan proyek resmi pemerintah daerah, bangunan lama perumahan, atau bagian dari kewenangan instansi lain. Klarifikasi ini menjadi penting agar publik mengetahui di mana sebenarnya letak tanggung jawab dan bagaimana arah kebijakan pengendalian banjir ke depan.
Jika pola penanganan seperti ini terus dipertahankan, maka jebolnya tanggul bukan lagi peristiwa luar biasa. Ia akan menjadi rutinitas tahunan.
Pertanyaan pun bukan lagi “apakah banjir akan datang”,melainkan “di mana tanggul berikutnya akan jebol".
Red/jfr

