Notification

×

Iklan

Iklan

Ini Sebabnya Mengapa Pejabat Tak Perlu Alergi terhadap Wartawan

Selasa, 27 Januari 2026 | 23.59.00 WIB Last Updated 2026-01-27T16:59:34Z

Ini Sebabnya Mengapa Pejabat Tak Perlu Alergi terhadap Wartawan
Gambar ilustrasi 

TANGERANG,BERITATANGERANG.CO.ID
– Di banyak kesempatan, masih saja ada pejabat yang terlihat berubah sikap saat wartawan datang. Wajah tegang, langkah dipercepat, jawaban dipersingkat, bahkan ada yang memilih pergi. Padahal, semakin dihindari, semakin besar pertanyaan yang muncul di kepala publik: ada apa sebenarnya?


Wartawan tidak datang membawa palu hakim. Mereka datang membawa pertanyaan yang mewakili rasa ingin tahu masyarakat. Ketika pertanyaan itu tidak dijawab, yang lahir bukan ketenangan, tapi kecurigaan. Bukan karena wartawannya, melainkan karena pejabatnya memilih diam.

Ironisnya, keterbukaan justru sering membuat persoalan lebih cepat selesai. 


Satu penjelasan yang jujur bisa mematikan sepuluh isu liar. Sebaliknya, satu penghindaran kecil bisa melahirkan puluhan tafsir. Di titik ini, sikap tertutup malah merugikan pejabat itu sendiri.


Kalau memang tidak ada yang disembunyikan, apa yang perlu ditakuti? Pertanyaan wartawan seharusnya dijawab dengan data, bukan dengan sikap menghindar. Dengan kalimat, bukan dengan gestur menutup diri. Di situlah kepercayaan publik dibangun.


Pejabat yang berani ditemui wartawan akan terlihat lebih utuh sebagai pemimpin. Bukan karena selalu benar, tetapi karena berani bertanggung jawab. Masyarakat tidak menuntut kesempurnaan, mereka hanya ingin kejujuran.

Masalahnya, sebagian pejabat masih memandang wartawan sebagai ancaman. Kamera dianggap jebakan, mikrofon dianggap perangkap. Padahal, yang menentukan baik buruknya pemberitaan bukan alatnya, tapi sikap pejabat dalam menjawab.


Pada akhirnya, wartawan akan tetap menulis, dengan atau tanpa pernyataan pejabat. Bedanya, jika pejabat mau bicara, publik mendapat cerita yang lengkap. Jika pejabat diam, publik hanya mendapat potongan yang mudah disalahartikan.


Di situ letak pilihannya sederhana: mau hadir dan menjelaskan, atau menghilang dan membiarkan orang lain menebak-nebak.Dan dalam urusan kepercayaan publik, yang hadir selalu lebih terhormat daripada yang bersembunyi.



Red/jfr