
Ketua Umum ADI Mohammed Ali Berawi
JAKARTA,BERITATANGERANG.CO.ID– Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) menegaskan pentingnya reformasi profesi dosen sebagai langkah strategis untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Penguatan kesejahteraan dosen dinilai menjadi fondasi dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul dan mendorong transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy).
Ketua Umum ADI, Mohammed Ali Berawi, mengatakan Indonesia tidak bisa terus bergantung pada sumber daya alam jika ingin menjadi negara maju. Menurutnya, investasi pada pendidikan tinggi, riset, inovasi, dan kualitas dosen harus menjadi prioritas nasional.
"Motor penggerak Indonesia Emas 2045 adalah SDM unggul, dan SDM unggul lahir dari dosen yang sejahtera," ujarnya dalam program Indonesia Kita Garuda TV, Selasa (7/7/2026).
ADI juga menilai polemik kesejahteraan dosen yang mencuat dalam uji materi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen di Mahkamah Konstitusi harus menjadi momentum pembenahan sistem pendidikan tinggi. Menurut Prof. Ale, persoalan utama bukan sekadar besaran pendapatan, tetapi lemahnya struktur gaji pokok dosen yang masih bergantung pada insentif dan honor tambahan.
Ia mengungkapkan, lebih dari 80 persen dari sekitar 328 ribu dosen di Indonesia masih berada pada jenjang fungsional bawah, sehingga rentan menghadapi persoalan kesejahteraan. Karena itu, ADI mengusulkan gaji pokok dosen minimal dua kali upah minimum regional (UMR) agar dosen dapat fokus menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
ADI menilai peningkatan kesejahteraan dosen akan berdampak langsung pada mutu pembelajaran, kualitas riset, serta daya saing lulusan. Reformasi profesi dosen pun diharapkan menjadi bagian dari agenda besar pembangunan pendidikan tinggi menuju Indonesia Emas 2045.
Red