-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ketua PWI Banten Soroti AI dan Buzzer di Seminar Literasi Media Kota Tangerang

Rabu, 13 Mei 2026 | 18.28.00 WIB Last Updated 2026-05-13T11:28:04Z

Ketua PWI Banten Soroti AI dan Buzzer di Seminar Literasi Media Kota Tangerang
Dari Kiri PWI Provinsi Banten Rian Nopandra,Ketua PWI Kota Tangerang dan Ketua Panitia Kegiatan Abdul Nasser 

TANGERANG,BERITATANGERANG CO.ID
— Ketua PWI Provinsi Banten, Rian Nopandra, menyoroti tantangan perkembangan teknologi digital di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan masifnya peran buzzer di media sosial. Karena itu, pemahaman terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dinilai penting sebagai acuan wartawan yang profesional agar masyarakat tidak mudah terjebak informasi menyesatkan maupun opini yang sengaja digiring.



Hal tersebut disampaikan Rian saat menjadi narasumber dalam Seminar Literasi Media yang digelar Pemerintah Kota Tangerang bersama Persatuan Wartawan Indonesia Kota Tangerang dan Dinas Pendidikan Kota Tangerang di Ruang Al Amanah, Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Selasa (12/5/2026).



Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 310 kepala sekolah SDN dan SMPN se-Kota Tangerang, serta dihadiri perwakilan organisasi wartawan lokal di Kota Tangerang. Seminar digelar sebagai upaya memperkuat literasi media di lingkungan pendidikan di tengah derasnya arus informasi digital.



Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah Kota Tangerang Herman Suwarman, Asisten Daerah II Ruta Ireng Wicaksana, Ketua DPRD Kota Tangerang Rusdi Alam, Kepala Dinas Pendidikan Wahyudi Iskandar, jajaran Dinas Pendidikan, pengurus PWI Provinsi Banten, serta tamu undangan lainnya.



Dalam paparannya, Rian mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah pola penyebaran informasi secara drastis. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak memperoleh informasi dari media massa yang melalui proses verifikasi, kini hampir semua orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi secara cepat melalui media sosial, bahkan dengan bantuan AI.



Menurutnya, kemajuan teknologi memang membawa manfaat besar, namun juga menghadirkan tantangan baru berupa membanjirnya informasi yang belum tentu benar, termasuk konten yang sengaja dibentuk untuk menggiring opini publik melalui buzzer atau akun anonim.


“Sekarang kita hidup di era digital yang sangat cepat. AI bisa membuat tulisan, gambar bahkan video yang terlihat sangat meyakinkan. Ditambah lagi adanya buzzer yang kadang menggiring opini publik. Karena itu penting memahami Kode Etik Jurnalistik (KEJ), supaya masyarakat bisa membedakan mana informasi yang terverifikasi dan mana yang hanya opini atau narasi liar di media sosial,” ujar Rian.



Ia menjelaskan, produk jurnalistik memiliki standar yang jelas, mulai dari verifikasi informasi, keberimbangan narasumber hingga kepatuhan terhadap kode etik. Hal itu menjadi pembeda antara karya jurnalistik dengan informasi yang beredar bebas di media sosial.


Karena itu, Rian mengingatkan para kepala sekolah agar mampu menjadi perpanjangan edukasi literasi media di lingkungan sekolah, terutama dalam membangun kebiasaan menyaring informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.


“Jangan semua yang viral langsung dipercaya. Cek sumbernya, pahami konteksnya dan lihat apakah informasi itu memenuhi kaidah jurnalistik atau tidak. Literasi media hari ini bukan lagi kebutuhan tambahan, tetapi sudah menjadi kebutuhan penting,” tegasnya.



Selain Ketua PWI Banten, seminar juga menghadirkan narasumber dari Dewan Pers, Rustam Fachri Mandayun, serta Muhammad Hopip yang membahas etika jurnalistik, peran media massa, hingga cara mengenali dan menangkal hoaks di era digital.



Melalui kegiatan tersebut, diharapkan dunia pendidikan di Kota Tangerang semakin memahami pentingnya literasi media sehingga mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih kritis, bijak, dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.


Jfr